Minim Sosialisasi Picu Penolakan, Warga Gunungputri Girang Pertanyakan Dampak Proyek Geothermal

Ayi Sopiandi
Gunung Gede Pangrango dan hamparan perkebunan blok Ciguntur. Foto: Ayi Sopiandi.

Ia menilai, aktivitas pengeboran berpotensi membawa alat berat ke kawasan dengan kemiringan tanah yang cukup tinggi. Menurutnya, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko longsor maupun gangguan terhadap lahan pertanian warga.

“Kalau ada pengerukan tanah dan pemerataan lahan, materialnya akan dibuang ke mana? Jangan sampai justru berdampak ke permukiman di bawah,” katanya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Niko (40), petani di Blok Tumaritis. Ia menyebut warga yang tinggal paling dekat dengan titik rencana pengeboran belum pernah menerima pemaparan langsung dari pihak pengembang.

“Hingga sekarang belum ada sosialisasi langsung ke kami yang berada di sekitar lokasi,” ujarnya.

Secara umum, proyek panas bumi memang digolongkan sebagai energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan energi fosil. Namun, dalam praktiknya, setiap proyek geothermal tetap memerlukan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), sosialisasi publik, serta keterlibatan masyarakat terdampak.

Editor : Ayi Sopiandi

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network