10 Ton Ikan di Waduk Cirata Jangari Mati Massal, Diduga Akibat Upwelling, Kerugian Ratusan Juta
CIANJUR, iNewsCianjur.id — Kematian ikan secara massal kembali terjadi di kawasan perairan Waduk Cirata Jangari, Kabupaten Cianjur. Sedikitnya 10 ton ikan di kolam jaring apung (Japung) Blok Salam ditemukan mati setelah perubahan cuaca ekstrem disertai angin kencang memicu fenomena upwelling atau pergerakan massa air dari lapisan bawah ke permukaan.
Peristiwa tersebut menyebabkan pembudidaya ikan mengalami kerugian material yang ditaksir mencapai Rp250 juta. Jumlah itu baru berdasarkan kematian ikan yang terdata di Blok Salam dan belum mencakup kemungkinan dampak di titik-titik lain di kawasan Waduk Cirata.
Salah seorang pemilik kolam Japung di Blok Salam, Muhyi (37), membenarkan adanya kematian ikan dalam jumlah besar tersebut. Menurutnya, perubahan cuaca yang berlangsung drastis menjadi salah satu faktor pemicu kondisi perairan yang berujung pada kematian ikan.
"Iya, banyak yang mati di Blok Salam, kurang lebih 10 ton termasuk di kolam saya," kata Muhyi, Rabu (9/9/2026).
Muhyi mengatakan, fenomena upwelling bukan kejadian baru bagi pembudidaya ikan di Waduk Cirata. Kondisi tersebut, menurut dia, hampir selalu muncul pada periode tertentu setiap tahun, terutama sekitar Agustus hingga September.
"Setiap tahun di bulan delapan dan sembilan pasti terjadi upwelling," ujarnya.
Fenomena tersebut menjadi persoalan serius bagi pembudidaya karena perubahan kondisi perairan dapat berlangsung cepat dan berdampak terhadap ikan yang dibudidayakan di dalam keramba.
Muhyi memperkirakan dampak kematian ikan kali ini masih berpotensi bertambah. Sebab, data sekitar 10 ton tersebut baru berasal dari satu kawasan, yakni Blok Salam.
"Menurut dia, itu baru di Blok Salam saja. Untuk blok lain di perairan Waduk Cirata Jangari saya tidak tahu, kemungkinan banyak ikan mati juga," katanya.
Hingga Rabu (9/9/2026), belum terdapat data menyeluruh mengenai jumlah ikan yang mati maupun total kerugian pembudidaya di seluruh kawasan perairan Waduk Cirata Jangari.
Pembudidaya berharap adanya pendataan lebih luas terhadap dampak fenomena upwelling, sekaligus langkah mitigasi untuk mengantisipasi kejadian serupa yang berulang setiap tahun dan berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi sektor perikanan keramba jaring apung.
Editor: Ayi Sopiandi