Polri Tanam Bawang Putih, Bidik 500 Hektare Lahan, Target Produksi 450 Ton, Kejar Swasembada 2029
CIANJUR, iNewscianjur.id — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggelar gerakan tanam bawang putih serentak di 14 wilayah Jawa Barat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menekan ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor.
Program tersebut diarahkan untuk mendukung target swasembada pangan nasional pada 2029.
Puncak kegiatan berlangsung di kawasan kaki Gunung Gede, Kampung Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Rabu (19/8/2026). Kegiatan dipimpin langsung Wakapolri Komjen Pol Prof. Dr. Dedi Prasetyo dan dihadiri Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Dr. Pipit Rismanto serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Wakapolri Komjen Pol Prof. Dr. Dedi Prasetyo mengatakan, pengembangan budidaya bawang putih dilakukan secara masif karena produksi dalam negeri hingga kini belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional. Kondisi tersebut membuat Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Menurut dia, tahap awal program di Jawa Barat mencakup lahan seluas 44,58 hektare yang dikembangkan melalui kolaborasi Polri dengan PTPN, Dinas Pertanian, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan).
“Luasan lahan ini akan terus berkembang secara bertahap. Secara nasional ditargetkan akhir September ini bisa mencapai 500 hektare lebih lahan budidaya bawang putih,” ujar Dedi.
Dari lahan tahap awal tersebut, produksi diproyeksikan mencapai sekitar 450 ton bawang putih dalam kurun waktu empat bulan. Kapasitas produksi diharapkan terus meningkat seiring dengan ekspansi lahan dan penguatan teknologi budidaya.
Dedi menegaskan, program tersebut tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi diarahkan menjadi model pengembangan pertanian yang berkelanjutan dengan melibatkan petani sebagai aktor utama.
Sementara itu, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Pipit Rismanto mengatakan sejumlah strategi telah disiapkan untuk mengatasi berbagai kendala dalam pengembangan komoditas bawang putih, mulai dari peningkatan kapasitas petani hingga penyediaan sarana pendukung produksi.
Polri, kata Pipit, menerjunkan 25 orang dalam tim riset kolaboratif yang terdiri atas Bakomsus Pertanian, personel Polri, mahasiswa, serta ahli pertanian. Tim tersebut bertugas melakukan pendampingan sekaligus mentransfer pengetahuan dan teknologi budidaya kepada kelompok tani.
“Tim ini diharapkan mampu membantu petani meningkatkan produktivitas melalui penerapan pengetahuan dan teknologi pertanian,” katanya.
Selain pendampingan, sebanyak satu ton bibit bawang putih disalurkan melalui dukungan PTPN dan hasil swadaya. Pengadaan bibit tersebut selanjutnya akan diperkuat dengan pembangunan greenhouse untuk mendukung kemandirian pembibitan.
Aspek pengairan juga menjadi perhatian. Pipit menyebut penyiapan sarana pengairan dan instalasi pipanisasi dilakukan untuk mengantisipasi keterbatasan air, khususnya ketika wilayah memasuki periode kemarau.
“Pengairan menjadi salah satu faktor penting agar produktivitas tetap terjaga dan budidaya tidak terganggu oleh kondisi cuaca,” ujarnya.
Selain agenda pertanian, kegiatan tersebut juga diisi dengan aksi sosial. Sebanyak 1.000 petani dari dua kelompok tani bersama warga setempat menerima paket bantuan sosial yang diserahkan langsung Wakapolri.
Bagi petani, bantuan tersebut dinilai memberikan dukungan tambahan di tengah masa produksi yang membutuhkan waktu sebelum hasil panen dapat diperoleh.
Suhendar, anggota Gapoktan Pasir Sapi, mengatakan bantuan tersebut membantu meringankan kebutuhan sehari-hari petani selama menunggu masa panen.
“Bantuan ini sangat membantu kami, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama menunggu panen,” ungkapnya.
Program tanam bawang putih tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pangan dari hulu. Dengan perluasan lahan, pendampingan petani, penyediaan bibit, penguatan teknologi, serta dukungan infrastruktur pengairan, pemerintah dan Polri menargetkan produksi bawang putih dalam negeri terus meningkat dan berkontribusi terhadap pencapaian swasembada pangan nasional pada 2029.
Editor: Ayi Sopiandi