Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dua Pegawai Bank BUMN Jadi Tersangka Korupsi Kredit Rp3,86 Miliar di Cianjur
Advertisement . Scroll to see content

Bertahun-tahun Jadi Jembatan Rawayan, Warga Empat Desa di Leles Menanti Akses Permanen

Selasa, 15 September 2026 | 19:10 WIB
  • author Gusti Wilantara
Bertahun-tahun Jadi Jembatan Rawayan, Warga Empat Desa di Leles Menanti Akses Permanen
Sasak rawayan di Desa Sukasirna, Kecamatan Leles butuh perhatian. Foto: Gusti Wilantara.

CIANJUR, iNewsCianjur.id — Harapan warga untuk memiliki akses penghubung yang aman masih belum terwujud. Jembatan Bojongbitung di Kampung Bojongbitung, RT 06/RW 01, Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, hingga kini masih berupa jembatan rawayan.

Padahal, jembatan tersebut menjadi akses penting bagi masyarakat dari sedikitnya empat desa, yakni Desa Walahir, Puncakwangi, Mandalawangi, dan Sirnasari, menuju wilayah Kecamatan Leles melalui Desa Sukasirna.

Kondisi jembatan yang belum permanen itu dikhawatirkan membahayakan keselamatan warga, terutama saat musim hujan ketika debit Sungai Cisokan meningkat.

Kepala Desa Sukasirna, Habib Latif, mengatakan usulan pembangunan jembatan permanen telah diajukan kepada pemerintah sejak 2024. Bahkan, lokasi tersebut sempat ditinjau dan disurvei oleh pihak terkait.

Namun, hingga kini pembangunan jembatan beton yang diharapkan masyarakat belum juga terealisasi.

“Usulan pembangunan jembatan permanen sebenarnya telah diajukan kepada pemerintah sejak 2024. Bahkan, lokasi tersebut sempat ditinjau dan disurvei oleh pihak terkait. Warga saya berharap jembatan ini bisa diganti menjadi jembatan beton,” ujar Habib, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, Jembatan Bojongbitung memiliki panjang sekitar 36 meter, tinggi 12 meter, dan lebar 5 meter. Sementara itu, kebutuhan anggaran untuk membangun jembatan permanen diperkirakan mencapai Rp4 miliar hingga Rp5 miliar.

Habib menuturkan, persoalan jembatan tersebut bukan hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat.

Ketika hujan deras mengguyur dan debit Sungai Cisokan meningkat, warga menghadapi risiko lebih besar saat melintasi jembatan. Kondisi itu dikhawatirkan menghambat aktivitas anak-anak menuju sekolah maupun masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Jembatan ini sangat penting bagi aktivitas warga. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu aktivitas warga, termasuk anak-anak yang berangkat sekolah maupun masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Selain menjadi jalur penghubung antardesa, Jembatan Bojongbitung juga memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Pasar yang berada di wilayah Sukasirna menjadi salah satu tujuan warga dari desa-desa sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan akses yang lebih aman dan lancar, mobilitas masyarakat serta distribusi barang diharapkan dapat meningkat.

“Infrastruktur tersebut menyangkut keselamatan warga sekaligus membuka akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan dan aktivitas ekonomi,” katanya.

Habib berharap pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga pemerintah pusat dapat memberikan perhatian serius terhadap usulan pembangunan Jembatan Bojongbitung.

Menurutnya, pembangunan jembatan permanen bukan sekadar mengganti konstruksi rawayan menjadi beton, melainkan upaya membuka akses yang lebih aman dan mendukung kemajuan masyarakat di wilayah tersebut.

“Mudah-mudahan pemerintah tingkat daerah, provinsi maupun pusat mendengar dan membantu. Kalau jembatan ini dibangun, insyaallah akses ekonomi semakin hidup dan masyarakat tidak lagi terhambat ketika musim hujan,” pungkasnya.

Editor: Ayi Sopiandi

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut