CIANJUR, iNewsCianjur.id — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengintensifkan pengukuran indeks kualitas udara di sejumlah titik strategis menyusul maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau panjang.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi udara di Kabupaten Cianjur tetap berada dalam batas aman dan tidak mengalami penurunan kualitas akibat paparan asap maupun peningkatan polutan yang ditimbulkan dari kebakaran.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) DLH Kabupaten Cianjur, Evi Hidayah, mengatakan pengukuran kualitas udara merupakan agenda rutin. Namun, kondisi kemarau panjang dan meningkatnya kejadian karhutla membuat pemantauan perlu dilakukan lebih intensif.
“Untuk memastikan kualitas udara ini dalam kondisi aman atau di bawah baku mutu, perlu dilakukan pengecekan atau pengukuran secara intensif,” ujar Evi, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan pemantauan sementara, kondisi indeks kualitas udara di Kabupaten Cianjur secara umum masih tergolong baik dan berada di bawah ambang batas baku mutu.
Meski demikian, DLH Cianjur tetap melakukan pengukuran lebih mendalam untuk memperoleh data yang akurat mengenai kondisi kualitas udara di lapangan, terutama di kawasan yang memiliki aktivitas kendaraan, permukiman padat, serta kawasan industri.
Dalam pelaksanaannya, DLH Cianjur berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Lingkungan Hidup. Pengukuran kualitas udara tersebut dilakukan secara berkala sebagai bagian dari pemantauan kondisi lingkungan.
Sebanyak delapan titik di Kabupaten Cianjur menjadi lokasi pengukuran kualitas udara. Lokasi tersebut dipilih untuk mewakili sejumlah kawasan dengan karakteristik aktivitas yang berbeda.
Empat titik pengukuran dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, yakni ruas Jalan Raya Bandung di sekitar Kantor Inspektorat, kawasan permukiman di Gang Bakti, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, kawasan industri di Jalan Perintis Kemerdekaan atau Jebrod, serta kawasan Terminal Tipe B Pasirhayam.
Sementara empat titik lainnya dilakukan bersama DLH Provinsi Jawa Barat, meliputi Kompleks Pemerintah Kabupaten Cianjur, kawasan Perumahan Pesona Cianjur Indah, kawasan industri PT Aurora World di Kecamatan Sukaluyu, serta area Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur.
Evi mengatakan sampel hasil pengukuran dari seluruh titik tersebut saat ini masih menjalani pemeriksaan laboratorium oleh pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan DLH Provinsi Jawa Barat.
“Hasil resminya diperkirakan akan keluar sekitar bulan November atau Desember mendatang,” katanya.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui secara lebih terukur kondisi kualitas udara Cianjur, termasuk kemungkinan adanya peningkatan parameter pencemar selama periode musim kemarau dan maraknya kejadian karhutla.
Editor : Ayi Sopiandi
Artikel Terkait
