Permukaan Air Waduk Cirata Surut, Luas Perairan Wisata Jangari Menyempit
CIANJUR, iNewsCianjur.id – Surutnya permukaan air Waduk Cirata di kawasan Jangari, Kabupaten Cianjur, mulai mengubah wajah kawasan wisata yang selama ini dikenal dengan hamparan perairannya.
Permukaan air yang menyusut membuat sejumlah bagian tepian waduk yang sebelumnya terendam kini mulai terlihat. Kondisi tersebut membuat panorama Jangari tampak berbeda dibandingkan saat ketinggian air berada pada kondisi normal.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wana Wisata Jangari, Hendrawan, mengatakan perubahan kondisi waduk turut dirasakan oleh pelaku wisata. Menurutnya, hamparan air menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang datang ke Jangari.
"Menyusutnya air membuat pemandangan di sejumlah titik Jangari terlihat berbeda. Hamparan perairan yang biasanya menjadi daya tarik wisatawan kini tampak lebih sempit," ujarnya, Minggu (27/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku wisata karena Jangari tidak hanya dikunjungi wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah, termasuk sejumlah wisatawan mancanegara, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
Aktivitas wisata air pun ikut menyesuaikan dengan kondisi permukaan Waduk Cirata. Bagi wisatawan yang datang untuk menikmati luasnya perairan, perubahan tersebut tentu memberikan pengalaman yang berbeda.
Meski demikian, surutnya waduk juga menghadirkan panorama baru. Tepian yang sebelumnya tertutup air kini membentuk hamparan tanah yang memberikan sudut pandang berbeda bagi pengunjung.
Namun, bagi sebagian wisatawan, daya tarik utama Jangari tetap berada pada luasnya hamparan air dan aktivitas wisata di atas Waduk Cirata.
"Perubahan kondisi Waduk Cirata tidak hanya berdampak terhadap sektor pariwisata," kata Hendra.
Kondisi perairan perlu dipantau secara rutin, terutama ketika terjadi perubahan cuaca dan curah hujan setelah sebelumnya permukaan waduk mengalami penyusutan.
"Karena itu, petani keramba perlu memperhatikan kualitas air serta perubahan perilaku ikan untuk mengantisipasi kemungkinan ikan mengalami stres atau gangguan," pungkasnya.
Editor: Ayi Sopiandi