Debit Air Irigasi di Cianjur Selatan Mulai Menyusut, Para Petani Diminta Waspada
CIANJUR, iNewsCianjur.id – Sejumlah daerah irigasi di wilayah selatan Kabupaten Cianjur mulai mengalami penurunan debit air seiring berkurangnya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut menjadi indikasi awal memasuki periode kemarau yang ditandai dengan meningkatnya hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah kawasan.
Kepala UPTD Pelayanan Infrastruktur Irigasi Wilayah V Sukanagara sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPTD Pelayanan Infrastruktur Irigasi Wilayah VI Pagelaran, MM Kurniawan, mengatakan penurunan debit air terpantau di beberapa jaringan irigasi yang berada di wilayah kerja Sukanagara dan Pagelaran.
“Hasil monitoring menunjukkan adanya penurunan debit di sejumlah daerah irigasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh berkurangnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir,” ujar Kurniawan, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, pemantauan lapangan terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap kebutuhan air sektor pertanian. Di wilayah Pagelaran, penurunan debit tercatat antara lain pada Daerah Irigasi Cireundeu di Kecamatan Tanggeung serta Daerah Irigasi Cilumut Pasirkerud.
Pihaknya mengintensifkan pengawasan kondisi sumber air dan jaringan irigasi guna memastikan distribusi air ke lahan pertanian tetap berjalan optimal selama musim tanam berlangsung.
Meski terjadi penyusutan debit, Kurniawan memastikan ketersediaan air masih berada pada level aman dan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan irigasi hingga berakhirnya Musim Tanam (MT) II tahun ini.
“Secara umum terjadi penurunan debit, tetapi pasokan air masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan pertanian sampai musim tanam kedua selesai,” katanya.
Ia menambahkan, karakteristik setiap daerah irigasi berbeda. Pada beberapa titik, kondisi debit air justru relatif stabil bahkan lebih baik saat musim kemarau dibandingkan musim hujan, salah satunya di kawasan Batu Beureum.
UPTD Pelayanan Infrastruktur Irigasi Wilayah V Sukanagara sendiri membawahi pengelolaan jaringan irigasi di empat kecamatan, yakni Sukanagara, Kadupandak, Cijati, dan Takokak. Dari total 36 daerah irigasi yang menjadi kewenangannya, lima di antaranya merupakan irigasi teknis, sedangkan sisanya tergolong irigasi sederhana.
Jaringan tersebut melayani areal pertanian seluas sekitar 7.800 hektare yang mencakup lahan persawahan, perkebunan, serta berbagai komoditas pertanian lainnya. Dengan luas layanan tersebut, keberlanjutan pasokan air menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian di wilayah selatan Cianjur selama musim kemarau berlangsung.
Editor : Ayi Sopiandi