Harga Kedelai Melonjak, Satu Pabrik Tahu di Cianjur Tutup Produksi
CIANJUR, iNewsCianjur.id — Kenaikan harga kedelai yang terus terjadi mulai memukul industri tahu skala kecil di Kabupaten Cianjur.
Tekanan biaya produksi yang semakin tinggi, ditambah melemahnya daya beli masyarakat, menyebabkan satu pabrik tahu di Desa Langensari, Kecamatan Karangtengah, terpaksa menghentikan operasionalnya.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Langensari, Asep Misbah, mengatakan dari lima unit usaha pengolahan tahu yang beroperasi di wilayahnya, satu pabrik milik Haji Ai sudah tidak lagi memproduksi tahu karena tidak mampu menutupi biaya operasional yang terus meningkat.
“Dari lima pengrajin tahu yang ada di Desa Langensari, saat ini satu pabrik milik Haji Ai sudah tidak beroperasi. Penyebab utamanya karena harga kedelai terus naik, sementara pemasaran dan penjualan menurun,” ujar Asep, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh pelaku usaha.
Permintaan pasar yang menurun membuat keuntungan semakin tipis hingga akhirnya usaha mengalami kerugian berkepanjangan.
Pemerintah Desa Langensari bersama perangkat kewilayahan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi usaha. Dari hasil pemantauan, pemilik usaha mengaku modal kerja yang dimiliki habis digunakan untuk menutup biaya produksi yang terus membengkak.
Asep menjelaskan, industri tahu selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat desa sekaligus sumber mata pencaharian bagi sejumlah warga. Karena itu, berhentinya aktivitas produksi dikhawatirkan berdampak pada meningkatnya angka pengangguran.
“Ketika pabrik berhenti beroperasi, para pekerja otomatis kehilangan mata pencaharian. Ini berpotensi menambah angka pengangguran dan memengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat,” katanya.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Desa Langensari kini mendata empat pengrajin tahu lainnya yang masih bertahan. Data tersebut akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Cianjur sebagai bahan evaluasi dan dasar penyusunan kebijakan penanganan.
Editor : Ayi Sopiandi