Jalan Rusak Jadi Wahana Gratis, Wisatawan: Kemana Pemdanya?
CIANJUR, iNewsCianjur.id — Keluh kesah warga dan wisatawan yang melintasi jalur wisata Gunungputri, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, tampaknya masih sebatas suara yang hilang di antara lubang-lubang jalan.
Pemerintah Daerah (Pemda) Cianjur, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), seolah memilih diam dan menikmati “karya alam” yang kini menghiasi jalan utama tersebut.
Jalan yang menghubungkan Simpang Raya hingga Kampung Gunungputri (terminal) kini bukan sekadar akses transportasi, melainkan berubah fungsi menjadi “arena uji nyali” bagi para pengendara. Aspal berlubang dengan kedalaman mencapai 5 hingga 15 sentimeter tampak tersusun rapi di tengah jalan, seakan sengaja dipertahankan sebagai ciri khas wisata ekstrem.
Pantauan di lokasi menunjukkan, lubang-lubang tersebut memanjang dengan sudut tajam yang siap “menyapa” kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi ini tentu jauh dari kata layak untuk jalur wisata yang menjadi pintu masuk menuju Gunung Gede Pangrango.
Agus (24), wisatawan asal Jakarta Barat, mengaku heran dengan kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki. Ia bahkan menyebut pengalamannya lebih menegangkan dibanding jalur pendakian.
“Mobil saya standar, bukan ceper. Tapi tetap saja bagian bawah kena. Ini bukan jalan wisata, ini seperti jalur off-road yang tidak direncanakan,” ujarnya, Minggu (5/4/2026) kemarin sore.
Keluhan serupa datang dari Fitria (19) dan Indra (21), pendaki asal Bekasi. Mereka menilai kondisi jalan tersebut bukan hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga membahayakan keselamatan.
“Kalau berpapasan dengan kendaraan lain itu susah. Mau menghindar ke mana? Semua berlubang,” kata mereka.
Sementara itu, Asep, warga setempat, mengaku sudah terlalu sering melihat kondisi ini tanpa perubahan berarti. Ia bahkan menyindir, mungkin jalan rusak ini memang sengaja dipertahankan.
“Entah ini mau dijadikan ikon atau bagaimana. Soalnya dari dulu tidak pernah ada perbaikan. Kalau pun ada, jauh dari permukiman,” katanya kesal.
Dengan kondisi seperti ini, publik pun mulai bertanya-tanya, apakah jalan rusak ini luput dari perhatian, atau justru sudah menjadi bagian dari “perencanaan” yang tak pernah diumumkan? Di tengah meningkatnya minat wisata ke kawasan Gunungputri, ironi ini menjadi potret nyata bahwa infrastruktur masih kalah cepat dibanding promosi pariwisata.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin wisatawan akan mengenang Cianjur bukan karena keindahan alamnya, melainkan karena “sensasi jalan berlubangnya” yang tak terlupakan.
Editor : Ayi Sopiandi