Antisipasi Perang Sarung, Disdikpora Cianjur Tingkatkan Pengawasan Pelajar
CIANJUR, iNewsCianjur.id — Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur menginstruksikan seluruh sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) untuk memperketat pengawasan terhadap peserta didik selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Kebijakan ini bertujuan mencegah munculnya aktivitas negatif di kalangan pelajar, termasuk aksi perang sarung yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Kepala Disdikpora Cianjur, Ruhli Solehudin, mengatakan imbauan tersebut telah disampaikan sejak pekan pertama Ramadan, termasuk menjelang masa libur dan cuti bersama. Sekolah diminta aktif mengarahkan siswa agar memanfaatkan momentum Ramadan dengan kegiatan yang bersifat edukatif dan religius.
“Sejak awal Ramadan, kami sudah mengingatkan satuan pendidikan agar membimbing siswa mengisi waktu dengan kegiatan positif, seperti pengajian di lingkungan masing-masing. Peran orang tua juga sangat penting dalam pengawasan,” ujar Ruhli, Senin (23/2/2026).
Ia menegaskan, pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga. Menurutnya, lemahnya kontrol terhadap aktivitas anak di luar jam belajar dapat membuka peluang terjadinya perilaku menyimpang, seperti nongkrong hingga larut malam atau terlibat perang sarung.
“Kami minta anak-anak tidak melakukan kegiatan di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Jika dibiarkan, ini bisa mengarah pada hal-hal negatif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain,” katanya.
Sebagai langkah preventif, Disdikpora juga memperkuat koordinasi dengan satuan pendidikan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) di wilayah Kabupaten Cianjur.
Apabila ditemukan indikasi keterlibatan siswa dalam aksi perang sarung, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan aparat keamanan, termasuk kepolisian sektor dan Polres Cianjur, untuk penanganan lebih lanjut.
“Setiap kasus akan ditangani sesuai ketentuan yang berlaku. Selain penegakan aturan, kami juga mengedepankan pendekatan pembinaan agar anak-anak tidak mengulangi perbuatannya,” jelas Ruhli.
Ia menambahkan, fenomena perang sarung kerap muncul hampir setiap tahun selama Ramadan. Karena itu, upaya pencegahan dinilai lebih efektif dibandingkan penindakan semata.
“Ini menjadi perhatian rutin setiap Ramadan. Kami ingin memastikan fenomena tersebut tidak berkembang dan tidak sampai menimbulkan korban. Pencegahan harus dilakukan sejak dini, melalui sinergi sekolah, orang tua, dan masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Ayi Sopiandi