120 Hektare Sawah di Cianjur Puso Diserbu Ribuan Burung, Petani Merugi Puluhan Juta

Dani Jatnika
Ribuan burung pipit serang lahan sawah milik Petani di Ciranjang. (Foto: Dani Jatnika).

CIANJUR, iNewsCianjur.id – Harapan ratusan petani di Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, pupus seketika. Ratusan hektare sawah dilaporkan gagal panen atau puso setelah diserbu ribuan burung selama hampir dua pekan terakhir.

Serangan terjadi saat padi memasuki masa panen. Bulir padi yang seharusnya siap dipanen habis dimakan, menyisakan tanaman hampa dan rusak. Burung-burung datang bergerombol setiap hari, terutama pada sore hari, dan menyasar hamparan sawah yang menguning.

Upaya pengamanan yang dilakukan petani, mulai dari orang-orangan sawah hingga penjagaan manual, tak mampu membendung masifnya serangan. Dalam hitungan hari, hasil panen yang ditunggu berbulan-bulan lenyap tak bersisa.

Salah seorang petani, Teten Sopiandi (45), warga Kampung Pasir Angin, mengaku sawah miliknya mengalami gagal panen total. Kondisi semakin parah karena selain dimangsa burung, tanaman padinya juga terserang penyakit.

“Ini benar-benar puso. Hampir tidak ada satu bulir pun yang tersisa. Padahal seharusnya sudah masuk masa panen,” ujar Teten dengan nada pilu, Rabu (21/1/2026).

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, satu hektare sawah dapat menghasilkan tujuh hingga delapan ton gabah. Namun pada musim tanam kali ini, hasil yang didapat tak sampai satu persen dari produksi biasanya.

“Biasanya bisa tujuh sampai delapan ton per hektare, sekarang paling hanya sekitar satu kuintal,” katanya.

Menurut Teten, serangan burung mulai terjadi sejak usia tanaman 45 hari hingga menjelang panen. Burung datang dalam jumlah ribuan dan terdiri dari berbagai jenis.

“Jumlahnya ribuan, biasanya sore hari. Ada burung pipit, ada juga burung yang kepalanya putih,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kampung Pasir Angin, Ikin Sodikin, menyebut serangan burung kali ini sebagai yang terparah dan paling meluas dibanding musim-musim sebelumnya.

“Kalau dulu sifatnya lokal, sekarang hampir menyeluruh. Ini yang paling parah,” katanya.

Ikin mengungkapkan, total luas sawah yang terdampak mencapai sekitar 120 hektare. Serangan tidak hanya menyasar sawah yang siap panen, tetapi juga tanaman yang masih sekitar satu minggu menuju masa panen.

“Ada petani yang menggarap satu hektare, ada juga sampai 13 hektare. Sebagian sudah gagal total, sebagian lagi masih bisa diselamatkan, tapi hasilnya sangat minim,” ujarnya.

Akibat kejadian ini, kerugian petani ditaksir sangat besar. Modal tanam per hektare diperkirakan mencapai Rp15 juta, sehingga petani yang mengelola lahan luas harus menanggung kerugian berlipat.

“Kalau satu hektare saja modalnya bisa Rp15 juta. Yang lahannya lebih luas tentu kerugiannya jauh lebih besar,” kata Ikin.

Untuk mencegah kerusakan lanjutan, petani terpaksa memasang jaring di area persawahan guna melindungi sisa tanaman. Namun langkah tersebut justru menambah beban biaya produksi.

“Satu jaring harganya sekitar Rp60 ribu. Untuk setengah hektare saja butuh delapan jaring. Ini jadi beban tambahan bagi petani,” pungkasnya.

Para petani berharap adanya perhatian serius dari Dinas Pertanian setempat, baik berupa bantuan bibit, kompensasi kerugian, maupun pendampingan teknis, agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada musim tanam berikutnya.

Editor : Ayi Sopiandi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network