Menapaki Jejak Mama Gelar, Menyusuri Empat Titik Sakral Warisan Ulama Besar Cianjur
CIANJUR, iNewsCianjur.id – Di balik hamparan pegunungan dan pedesaan yang masih asri, Kabupaten Cianjur menyimpan jejak panjang perjuangan ulama besar yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Sosok itu adalah Mama Gelar, ulama kharismatik yang dikenal luas sebagai penyebar syiar Islam di wilayah selatan Cianjur.
Jejak perjuangan beliau dapat ditelusuri melalui empat lokasi yang dianggap sakral oleh para penerus dan masyarakat, yakni Gelar di Desa Peuteuycondong, Kecamatan Cibeber, Sadar Alam di Kecamatan Cidaun, Anasor di Kecamatan Gekbrong, serta Tambak Baya di Desa Cipetir, Kecamatan Cibeber.
Perjalanan napak tilas menuju empat titik tersebut bukan sekadar wisata religi. Setiap lokasi menyimpan kisah perjuangan dakwah, keteladanan, hingga sejarah panjang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Di antara keempat tempat tersebut, Majelis Tambak Baya menjadi salah satu pusat dakwah yang masih aktif hingga sekarang. Tempat ini ditempati oleh cucu pertama Mama Gelar, KH. Muhammad Tadkjir, yang akrab disapa Haji Aging.
Haji Aging dikenal sebagai ulama kharismatik asal Cianjur yang meneruskan perjuangan dakwah leluhurnya. Di bawah asuhannya, Majelis Tambak Baya berkembang menjadi pusat pendidikan Islam melalui Pondok Pesantren Birul Walidain. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an masih terdengar setiap hari dari para santri yang menimba ilmu agama, mengaji, dan memperdalam ilmu Al-Qur'an.
"Alhamdulillah hingga saat ini pesantren masih aktif, dan meneruskan keinginan sepuh Mama Gelar," singkatnya, Selasa (7/7/2026).
Suasana di lingkungan pesantren terasa tenang. Bangunan-bangunan sederhana berpadu dengan pepohonan rindang, menghadirkan nuansa religius yang membuat siapa pun merasakan kedamaian begitu memasuki kawasan tersebut.
Namun, bukan hanya aktivitas keagamaan yang menjadikan Tambak Baya istimewa. Tempat ini juga menyimpan peninggalan sejarah yang diyakini berasal dari masa penjajahan Belanda.
Di kawasan majelis berdiri sebuah masjid tua yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Pada bagian tertentu bangunan tersebut masih terlihat ukiran-ukiran lama, bahkan terdapat lambang yang menyerupai bendera Belanda, menjadi saksi bisu perjalanan panjang dakwah Islam di tengah masa kolonial.
Cerita lain yang tak kalah menarik adalah keberadaan sebuah goa bawah tanah yang dikenal dengan nama Mursilat. Goa dengan panjang sekitar 100 meter itu membentang di bawah rumah tinggal Haji Aging.
Konon, jalur tersebut memiliki titik awal yang ditandai rumpun bambu kuning di bagian depan rumah dan berakhir di area belakang rumah.
"Goa ini dibuat pada taun 1952, dan sekarang masih ada," ucapnya.
Hingga kini, keberadaan goa itu masih menjadi bagian dari sejarah yang diwariskan secara turun-temurun dan menyimpan banyak kisah yang belum sepenuhnya terungkap.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan Masjid tua, goa Mursilat, serta aktivitas para santri menjadi bukti bahwa warisan perjuangan Mama Gelar tidak berhenti pada cerita masa lalu. Nilai-nilai dakwah, pendidikan, dan keteladanan terus hidup melalui para penerusnya.
Napak tilas ke Gelar, Sadar Alam, Anasor, dan Tambak Baya bukan sekadar mengenang seorang ulama besar. Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa Cianjur memiliki kekayaan sejarah Islam yang begitu kuat, diwariskan melalui jejak perjuangan para ulama yang hingga kini masih dirawat dengan penuh penghormatan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan tiga titik sakral tersebut menjadi penanda bahwa sejarah, spiritualitas, dan pendidikan Islam tetap memiliki tempat yang kokoh di bumi Cianjur.
Editor: Ayi Sopiandi