Bayangan di Balik Blankar, Kisah Sunyi Sopir Ambulance dari Cibadak
CIANJUR, iNewsCianjur.id - Di jalanan sepi yang membelah pelosok desa, deru mesin ambulance kerap menjadi satu-satunya suara yang memecah sunyi malam. Bagi sebagian orang, kendaraan itu adalah simbol harapan.
Namun bagi Ncuy (35), sopir ambulance Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, perjalanan justru sering menghadirkan cerita yang sulit dijelaskan logika.
Sejak mulai bekerja sebagai sopir ambulance, Ncuy mengaku sudah empat kali membawa jenazah. Tugas yang bagi orang lain mungkin terasa berat, baginya sudah menjadi bagian dari tanggung jawab. Namun, bukan sekadar perjalanan mengantar, pengalaman-pengalaman ganjil kerap menyertainya.
“Kadang ada yang aneh di dalam mobil,” ujarnya pelan.
Ncuy bercerita, beberapa kali ia melihat sosok misterius di dalam ambulance. Sosok itu duduk di atas blankar, tepat di tempat biasanya jenazah dibaringkan. Namun, yang membuat bulu kuduk merinding, sosok tersebut selalu membelakangi.
Tak hanya sekali. Penampakan itu muncul berulang, dengan bentuk yang berbeda-beda. Terkadang menyerupai jenazah yang baru saja diangkutnya, yang dalam kepercayaan masyarakat dikenal sebagai jin korin. Di lain waktu, sosok itu berubah menjadi pocong, diam tanpa suara, seolah hanya ingin menunjukkan keberadaannya.
Meski begitu, Ncuy memilih tetap fokus pada kemudi. Ia sadar, tugasnya adalah memastikan perjalanan sampai tujuan.
Keanehan tak berhenti di situ. Dalam beberapa perjalanan malam, ia sering merasakan hembusan angin dingin yang tiba-tiba menyentuh bibir telinganya. Padahal, kaca mobil tertutup rapat, dan tak ada sumber angin yang jelas.
“Dingin sekali, seperti ada yang berbisik, tapi tidak ada suara,” katanya.
Pengalaman paling menegangkan terjadi belum lama ini. Saat melintas di jalan pelosok kawasan bedeng, laju ambulance mendadak terhenti. Di depannya, seekor ular sanca kembang melintang di badan jalan.
Jalan yang lebarnya hanya sekitar 2,5 meter itu tertutup sepenuhnya oleh tubuh ular. Ncuy memperkirakan panjangnya mencapai 10 meter, membentang tanpa bergerak.
Ia hanya bisa diam di balik kemudi, menunggu dengan jantung berdegup kencang. Tak ada pilihan lain, karena ruang untuk menghindar nyaris tidak ada.
Dalam kesunyian malam itu, waktu terasa berjalan lambat. Hingga akhirnya, ular tersebut perlahan bergerak menepi, membuka jalan bagi ambulance untuk melanjutkan perjalanan.
Bagi Ncuy, pengalaman-pengalaman itu bukan alasan untuk berhenti. Ia tetap menjalani pekerjaannya dengan tenang, meski kadang harus berdamai dengan rasa takut.
“Sudah terbiasa,” ucapnya singkat.
Di balik tugas mulianya mengantar yang hidup dan yang telah tiada, Ncuy menyimpan kisah-kisah yang tak semua orang berani dengar. Kisah tentang perjalanan sunyi, bayangan tanpa wajah, dan misteri yang seolah ikut menumpang di balik blankar ambulance.
Editor : Ayi Sopiandi